Kamis, 16 April 2020

Wafatnya Rasa Kemanusian dan Nurani di Masa Pandemi


Oleh : Mimin Wulandari, S. Si
Tata sosial dan budaya masyarakat kita terkenal sebagai  masyarakat yang religius ramah tamah, toleransi dan gotong-royong serta saling membantu. Tapi belakangan ini seiring dengan pandemi virus corona serasa nilai-nilai luhur yang sudah tertanam di masyarakat kita diobrak-abrik. Beberapa warga masyarakat serasa sudah kehilangan rasa kemanusiaan serta  nurani yang tergerus. Egoisme timbul untuk lebih mementingkan keselamatan dan keuntungan diri sendiri.  Ternyata ketika bahaya mengancam masing-masing orang spontanitas berusaha menyelamatkan dirinya sendiri, contoh kecil dengan melambungnya harga masker dan hand sanitizer yang sangat dibutuhkan pada masa pandemi ini, beberpa pihak tertentu menimbun dua barang ini yang menyebabkan kelangkaan ditengah masyarakat.
Para pejabat menghimbau masyarakat jangan panik, tapi kepanikan justru terjadi. Sangat ironi sekali karena imbauan yang seharusnya disambut dengan ketidak resahan justru sebaliknya disambut dengan kepanikan, kepanikan nyata adalah aksi warga memborong sembako pada saat himbauan pertama kali oleh pemerintah. Aksi borong sembako dilakukan oleh masyarakat  yang perekonomiannya mampu atau kelas menengah ke atas. Mereka tidak memikirkan bagaimana nasib-nasib saudara kita yang lain, yang harus bekerja keras untuk mendapatkan sesuap nasi.
Bersama dengan merebaknya kepanikan masyarakat, kita disuguhi sejumlah fakta getir, aneh, lucu, ironis dan terkadang menyedihkan serta memalukan.
Nilai-niai Pancasila sebagai falsafah negara dan ideologi pembangunan, diuji keberadaannya  ketika virus corona merambah ke masyarakat dan membawa malaikat maut datang menjemput warga negara.  Banyak sekali  berita dan cerita tentang dikucilkannya pasien dan keluarga yang positif terjangkit virus corona oleh warga setempat. Anggapan bahwa terjangkit virus corona adalah aib menjadi dampak sosial yang tidak bisa dipungkiri. ketakutan warga yang teramat sangat tertular  virus corona, menyebabkan masyarakat menjauhi pasien corona dengan mengucilkannya.
Banyak kejadian disekitar kita yang membuat kita miris, ketika seseorang yang tiba-tiba terjatuh pingsan dan kejang-kejang, tidak ada satupun warga ditengah keramaian itu mau menolongnya,  mereka  meihat dan merekam saja bagai sebuah tontonan. Aksi penolakan pemakaman jenasah pasien virus corona pun terjadi. Penolakan  jenasah perawat sebagai  pahlawan kemanusiaan yang berada di garda terdepan di masa pandemi ini, membuat rasa kemanusiaan kita terkoyak. Berbagai kecaman muncul atas penolakan jenasah perawat yang dilakukan oleh oknum warga yang tidak memiliki rasa kemanusiaan.
Stigma negatif pada korban maupun tenaga medis yang terinfeksi corona masih terus terjadi,  tidak hanya sekali dua kali saja . Masih banyak kasus-kasus stigmatisasi dan perlakuan  tidak menyenangkan yang diterima oeh para petugas kesehatan.
Betapa besar perjuangan dan pengorbanan paramedis, mereka melawan rasa cemas, karena besarnya rasa tanggung jawab membuat nyali mereka tidak gentar. Paramedis berani menanggung resiko yang mungkin saja bisa menimpa diri mereka ditengah pandemi. Ternyata tidak semua orang menyadari betapa besarnya pengorbanan tersebut.
Seharusnya kita masyarakat umum memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada paramedis, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas pengorbanan mereka. Kita harus menumbuhkan lagi rasa kemanusiaan  dimasyarakat, menghilangkan stigma negatif  pada para medis dan pasien corona .
Untuk itu perlu kerjasama pemerintah ulama dan instansi terkait untuk melawan virus ini. Pemerintah perlu terus melakukan sosialisasi corona hingga tingkat dasar serta secara sistematis, hingga RT bahkan keluarga. Masyarakatpun harus sadar bahwa pemakaman jenasah pasien corona sudah sesuai dengan prosedur tetap, sehingga tidak ada alasan bagi masyarakat untuk ketakutan tertular corona. Yang perlu masyarakat ketahui bahwa Kementerian kesehatan telah mengeluarkan pedoman tentang pedoman khusus pengurusan jenasah pasien yang terinfeksi virus corona dan pedoman pencegahan dan pengendalian virus corona. MUI pun telah mengeluarkan Fatwa Nomor 18 Tahun 2020 Tentang Pedoman Pengurusan Jenasah Musilim yang terinfeksi corona. Tidak ada alasan berlebihan untuk menolak jenasah pasien positif corona, karena semua sudah dilakukan sesuai prosedur, tidak ada yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Seharusnya kita mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi dan mendoakan bukan sebaliknya. Apapun yang terjadi di bumi pertiwi kita saat ini, semoga wabah ini segera berlalu dan semoga setiap individu menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tips Menulis Cepat dan Tepat

Bertemu kembali dalam kihade@blogspot. Kali ini kita akan mengahdirkan Catur Nurrochman Oktavian, M. Pd. Beliau adalah Ketua Departemen ...