Oleh : Mimin Wulandari, S. Si
Tata sosial dan
budaya masyarakat kita terkenal sebagai
masyarakat yang religius ramah tamah, toleransi dan gotong-royong serta
saling membantu. Tapi belakangan ini seiring dengan pandemi virus corona
serasa nilai-nilai luhur yang sudah tertanam di masyarakat kita diobrak-abrik.
Beberapa warga masyarakat serasa sudah kehilangan rasa kemanusiaan serta nurani yang tergerus. Egoisme timbul untuk
lebih mementingkan keselamatan dan keuntungan diri sendiri. Ternyata ketika bahaya mengancam masing-masing orang spontanitas
berusaha menyelamatkan dirinya sendiri, contoh kecil dengan melambungnya harga
masker dan hand sanitizer yang sangat dibutuhkan pada masa pandemi ini, beberpa
pihak tertentu menimbun dua barang ini yang menyebabkan kelangkaan ditengah
masyarakat.
Para pejabat
menghimbau masyarakat jangan panik, tapi kepanikan justru terjadi. Sangat ironi
sekali karena imbauan yang seharusnya disambut dengan ketidak resahan justru
sebaliknya disambut dengan kepanikan, kepanikan nyata adalah aksi warga
memborong sembako pada saat himbauan pertama kali oleh pemerintah. Aksi borong
sembako dilakukan oleh masyarakat yang
perekonomiannya mampu atau kelas menengah ke atas. Mereka tidak memikirkan bagaimana
nasib-nasib saudara kita yang lain, yang harus bekerja keras untuk mendapatkan sesuap
nasi.
Bersama dengan
merebaknya kepanikan masyarakat, kita disuguhi sejumlah fakta getir, aneh,
lucu, ironis dan terkadang menyedihkan serta memalukan.
Nilai-niai
Pancasila sebagai falsafah negara dan ideologi pembangunan, diuji keberadaannya ketika virus corona merambah ke
masyarakat dan membawa malaikat maut datang menjemput warga negara. Banyak sekali
berita dan cerita tentang dikucilkannya pasien dan keluarga yang positif
terjangkit virus corona oleh warga setempat. Anggapan bahwa terjangkit
virus corona adalah aib menjadi dampak sosial yang tidak bisa
dipungkiri. ketakutan warga yang teramat sangat tertular virus corona, menyebabkan masyarakat
menjauhi pasien corona dengan mengucilkannya.
Banyak kejadian
disekitar kita yang membuat kita miris, ketika seseorang yang tiba-tiba
terjatuh pingsan dan kejang-kejang, tidak ada satupun warga ditengah keramaian
itu mau menolongnya, mereka meihat dan merekam saja bagai sebuah
tontonan. Aksi penolakan pemakaman jenasah pasien virus corona pun
terjadi. Penolakan jenasah perawat
sebagai pahlawan kemanusiaan yang berada
di garda terdepan di masa pandemi ini, membuat rasa kemanusiaan kita terkoyak.
Berbagai kecaman muncul atas penolakan jenasah perawat yang dilakukan oleh
oknum warga yang tidak memiliki rasa kemanusiaan.
Stigma negatif pada
korban maupun tenaga medis yang terinfeksi corona masih terus terjadi, tidak hanya sekali dua kali saja . Masih
banyak kasus-kasus stigmatisasi dan perlakuan
tidak menyenangkan yang diterima oeh para petugas kesehatan.
Betapa besar
perjuangan dan pengorbanan paramedis, mereka melawan rasa cemas, karena
besarnya rasa tanggung jawab membuat nyali mereka tidak gentar. Paramedis
berani menanggung resiko yang mungkin saja bisa menimpa diri mereka ditengah
pandemi. Ternyata tidak semua orang menyadari betapa besarnya pengorbanan
tersebut.
Seharusnya kita
masyarakat umum memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada paramedis,
mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas pengorbanan mereka. Kita harus
menumbuhkan lagi rasa kemanusiaan
dimasyarakat, menghilangkan stigma negatif pada para medis dan pasien corona .
Untuk itu perlu
kerjasama pemerintah ulama dan instansi terkait untuk melawan virus ini.
Pemerintah perlu terus melakukan sosialisasi corona hingga tingkat dasar
serta secara sistematis, hingga RT bahkan keluarga. Masyarakatpun harus sadar
bahwa pemakaman jenasah pasien corona sudah sesuai dengan prosedur
tetap, sehingga tidak ada alasan bagi masyarakat untuk ketakutan tertular
corona. Yang perlu masyarakat ketahui bahwa Kementerian kesehatan telah
mengeluarkan pedoman tentang pedoman khusus pengurusan jenasah pasien yang
terinfeksi virus corona dan pedoman pencegahan dan pengendalian virus corona.
MUI pun telah mengeluarkan Fatwa Nomor 18 Tahun 2020 Tentang Pedoman Pengurusan
Jenasah Musilim yang terinfeksi corona. Tidak ada alasan berlebihan untuk
menolak jenasah pasien positif corona, karena semua sudah dilakukan sesuai
prosedur, tidak ada yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Seharusnya kita
mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi dan mendoakan bukan sebaliknya. Apapun
yang terjadi di bumi pertiwi kita saat ini, semoga wabah ini segera berlalu dan
semoga setiap individu menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar