Senin, 06 April 2020

Aku Bebas Memilih Kelas

Lagi-lagi cerita tentang Pak Say sang guru matematika. Kali ini Pak Say mengajar di kelas X MIPA, biasa sebelum bel berbunyi Pak Say sudah bersiap di serambi kelas. Tepat pukul 12.30 bel berbunyi pertanda pergantian pelajaran .Pak Say pun masuk kelas dengan salam gurihnya. “ Assalamualaikum……” sapanya. “Waalaikumussalam…..” sahut para siswa. Dengan menenteng tas kesayangannya Pak Say melangkah menuju meja guru dan mengeluarkan beberapa buku dan laptop dari dalam tasnya.
Seperti biasa “lagu lama” jurus yang dikeluarkan oleh Pak Say mengawali doa bersama dan menyampaikan beberapa patah kalimat motivasi kepada siswa sebagai bahan apersepsinya. Lima menit berjalan , para siswa sudah bersiap dengan “kipas manualnya”, apa itu ? pastinya buku tulis.
Gerah pada siang itu cukup membuat para siswa termasuk Pak Say merasakan “ketidakbetahan” di kelas. Pak… Panas.” cuitan dari beberapa siswa mengeluh. Pak Say pun tanggap akan kondisi kelas yang tidak representatif untuk ditempati belajar karena cuaca panas . Maklum waktu itu terik matahari sangat menyengat hingga ruang kelas terasa “puanas”.
Tanpa basa-basi Pak Say pun langsung mengajak siswa keluar kelas menuju ke masjid sekolah. Setibanya di serambi Masjid semua siswa diperintahkan untuk berwudlu terlebih dahulu . Satu persatu para siswa berwudlu dengan berbaris memanjang ke belakang, karakter antri yang ditanamkan di sekolah tersebut.
Dua puluh menit berjalan terhitung mulai bel berbunyi para siswa sudah berkumpul dengan duduk rapi di masjid. Dengan meminta izin kepada semua siswa, Pak Say memulai pembelajaran. Pembelajaran berlangsung dengan nyaman dan santai tanpa terganggu dengan “ ongkep” . Kipas manual berhenti tak bergerak tergantikan angin “ smilir-smilir”, tanya jawab guru dan siswa saling bersahutan bak bincang-bincang burung di pepohonan. Hingga pembelajaran usai dalam waktu 90 menit.
Sedikit cerita diatas merupakan kondisi dan situasi yang mungkin terjadi di kelas kita. Kita tidak bisa bersikukuh memaksakan pembelajaran dikelas jika kondisi dan situasi demikian terjadi. Kita sebagai guru harus berinisitif dan mengambil langkah agar pembelajaran bisa berjalan dengan nyaman dan menyenangkan. Dimanapun tempat dapat dijadikan sebagai sarana untuk belajar.
Merdeka belajar, merdeka beraktifitas, dimanapun tempat menjadi sarana belajar ,menjadi kelas yang menyenangkan dengan tidak mengenyampingkan etika dan adab.

6 komentar:

Tips Menulis Cepat dan Tepat

Bertemu kembali dalam kihade@blogspot. Kali ini kita akan mengahdirkan Catur Nurrochman Oktavian, M. Pd. Beliau adalah Ketua Departemen ...