Lagi-lagi cerita tentang Pak Say sang guru matematika. Kali ini Pak
Say mengajar di kelas X MIPA, biasa sebelum bel berbunyi Pak Say sudah
bersiap di serambi kelas. Tepat pukul 12.30 bel berbunyi pertanda
pergantian pelajaran .Pak Say pun masuk kelas dengan salam gurihnya. “
Assalamualaikum……” sapanya. “Waalaikumussalam…..” sahut para siswa.
Dengan menenteng tas kesayangannya Pak Say melangkah menuju meja guru
dan mengeluarkan beberapa buku dan laptop dari dalam tasnya.
Seperti
biasa “lagu lama” jurus yang dikeluarkan oleh Pak Say mengawali doa
bersama dan menyampaikan beberapa patah kalimat motivasi kepada siswa
sebagai bahan apersepsinya. Lima menit berjalan , para siswa sudah
bersiap dengan “kipas manualnya”, apa itu ? pastinya buku tulis.
Gerah
pada siang itu cukup membuat para siswa termasuk Pak Say merasakan
“ketidakbetahan” di kelas. Pak… Panas.” cuitan dari beberapa siswa
mengeluh. Pak Say pun tanggap akan kondisi kelas yang tidak
representatif untuk ditempati belajar karena cuaca panas . Maklum waktu
itu terik matahari sangat menyengat hingga ruang kelas terasa “puanas”.
Tanpa
basa-basi Pak Say pun langsung mengajak siswa keluar kelas menuju ke
masjid sekolah. Setibanya di serambi Masjid semua siswa diperintahkan
untuk berwudlu terlebih dahulu . Satu persatu para siswa berwudlu dengan
berbaris memanjang ke belakang, karakter antri yang ditanamkan di
sekolah tersebut.
Dua puluh menit berjalan terhitung mulai bel
berbunyi para siswa sudah berkumpul dengan duduk rapi di masjid. Dengan
meminta izin kepada semua siswa, Pak Say memulai pembelajaran.
Pembelajaran berlangsung dengan nyaman dan santai tanpa terganggu dengan
“ ongkep” . Kipas manual berhenti tak bergerak tergantikan angin “
smilir-smilir”, tanya jawab guru dan siswa saling bersahutan bak
bincang-bincang burung di pepohonan. Hingga pembelajaran usai dalam
waktu 90 menit.
Sedikit cerita diatas merupakan kondisi dan
situasi yang mungkin terjadi di kelas kita. Kita tidak bisa bersikukuh
memaksakan pembelajaran dikelas jika kondisi dan situasi demikian
terjadi. Kita sebagai guru harus berinisitif dan mengambil langkah agar
pembelajaran bisa berjalan dengan nyaman dan menyenangkan. Dimanapun
tempat dapat dijadikan sebagai sarana untuk belajar.
Merdeka
belajar, merdeka beraktifitas, dimanapun tempat menjadi sarana belajar
,menjadi kelas yang menyenangkan dengan tidak mengenyampingkan etika dan
adab.

Ayo kita perbaiki interkasi di kelas bersama siswa
BalasHapusSiap Om Jay. Terimakasih silaturrahminya Om. Meskipun di dunia maya
HapusKilat,udah selesai ya,mantap.
BalasHapusSiap Bunda. Telah mampir di blog saya.
HapusMantap
BalasHapusTerimaksih apresiasinya. Jempol balik
Hapus