Kata
“bonsai” tak asing didengar bagi kita semua. Bonsai merupaakan tanaman
pohon yang sengaja dikerdilkan dan dibentuk sedemikian rupa sehingga
menghasilkan keindahan seni pada akar,batang dan daunnya. Semakin
memiliki banyak keunikan pada bonsai pastinya akan memiliki nilai
ekonomis yang “lumayan” jika dijual dan “diuangkan”. Banyak orang yang
terlanjur “gandrung” pada bonsai karena mungkin sekadar hobi atau karena
menjadi ladang bisnis yang sangat menguntungkan.
Ada
hal yang menarik dapat kita petik hikmah pelajaran dari bonsai. Jika
kita amati dan cari tahu tentang bagaimana seluk beluk bonsai mulai dari
pemilihan pohon, penyiapan media, penanaman dan pemeliharaan,
pembentukan sampai tahap penyempurnaan, maka dibutuhkan keahlian,
kesabaran dan “keajekan” dari awal sampai akhir. Membuat bonsai yang
memiliki nilai seni tinggi memerlukan waktu panjang, pengorbanan tenaga
dan waktu untuk memberi perhatian serta “telaten” untuk membentuk batang
ranting, memotong dahan yang memang tidak diperlukan.
Terlepas
dari cerita bonsai diatas, mari bersama melihat posisi kita sebagai
pendidik. Guru sebagai pendidik memiliki tanggungjawab akan keberadaan
peserta didik disekolah. Amanah yang diberikan para orang tua kepada
kita sebagai guru sungguh sangat berat. Bayangkan, guru memiliki tugas
utama mendidik, mengajar dan melatih. Secara
ringkas mendidik berkaitan dengan sikap, mengajar berkaitan dengan
pengetahunan dan melatih berkaitan dengan ketrampilan. Ambillah visi
sekolah yang secara umum menjadi tujuan ketercapaian terhadap peserta
didik yaitu terciptanya peserta didik yang cerdas, terampil dan
berakhlakul karimah.
Menjadi pertanyaan bagi kita sebagai guru, bagaimana cara mencetak siswa sehingga terwujud seperti visi diatas ?
Ya…. mungkin kita mudah menjawab dengan argumentasi yang serba teoritis.
Tetapi sering kita menemui kendala di “medan tempur”. Ketika dalam
pelaksanaannya kita butuh ektra dan kesunguh-sungguhan, telaten dan
sabar dalam mendampingi peserta didik. Seperti halnya kita membentuk
bonsai. Kita harus mempersiapkan media tanam secara baik dalam hal ini
kita harus menyiapkan lingkungan
sekolah yang kondusif dan minimal ada ketercukupan fasilitas
pembelajaran. Sekolah pastinya memiliki sederet aturan untuk diterapkan
kepada peserta didik bukan untuk mengekang tetapi untuk mengendalikan
dan mengarahkan agar terbentuk sikap dan karakter yang baik dan mulia.
Sekolah secara terus menerus memberikan “nutrisi” ilmu pengetahuan
kepada peserta didik serta terus melatih akan terasahnya
ketrampilannya.itu semua dilakukan demi tercapai sebuah visi.
“Tegas dalam mendidik bukan berarti keras, disiplin terhadap waktu bukan berarti kita mengekang kebebasan, menggiring bukan berarti memaksa”
Untuk membentuk karakter tidak cukup waktu satu dua hari, tetapi membutuhkan waktu yang panjang dan membutuhkan kesabaran ,
Untuk membentuk karakter dibutuhkan pembiasaan yang terus menerus “ajek” dilakukan.
Hingga akhirnya akan menjadi kesadaran yang ikhlas pada setiap individu.
Semoga
kita semua sebagai pendidik mendapatkan kekuatan, pertolongan serta
taufik hidayah-Nya dalam mendidik anak bangsa dan mengemban amanah penuh
tanggungjawab. Amiin.
#salamliterasi#paksay

Terimaksih Om Jay. siap terus belajar kepada suhu ( Om Jay )
BalasHapusKeren keren keren.. bolehlah saya bikin blog jg
BalasHapusTerimaksih..... mari bersama belajar
Hapussip mantap pak say
BalasHapusTerimakasih Mbak Dewi
HapusOK... Mantap #terusbelajarterus
BalasHapusSiap terus belajar
HapusBagus pak. Mendidik butuh waktu dan ketelatenan
BalasHapus