Jumat, 03 April 2020

Bonsai Yang Unik


Kata “bonsai” tak asing didengar bagi kita semua. Bonsai merupaakan tanaman pohon yang sengaja dikerdilkan dan dibentuk sedemikian rupa sehingga menghasilkan keindahan seni pada akar,batang dan daunnya. Semakin memiliki banyak keunikan pada bonsai pastinya akan memiliki nilai ekonomis yang “lumayan” jika dijual dan “diuangkan”. Banyak orang yang terlanjur “gandrung” pada bonsai karena mungkin sekadar hobi atau karena menjadi ladang bisnis yang sangat menguntungkan.
Ada hal yang menarik dapat kita petik hikmah pelajaran dari bonsai. Jika kita amati dan cari tahu tentang bagaimana seluk beluk bonsai mulai dari pemilihan pohon, penyiapan media, penanaman dan pemeliharaan, pembentukan sampai tahap penyempurnaan, maka dibutuhkan keahlian, kesabaran dan “keajekan” dari awal sampai akhir. Membuat bonsai yang memiliki nilai seni tinggi memerlukan waktu panjang, pengorbanan tenaga dan waktu untuk memberi perhatian serta “telaten” untuk membentuk batang ranting, memotong dahan yang memang tidak diperlukan.
Terlepas dari cerita bonsai diatas, mari bersama melihat posisi kita sebagai pendidik. Guru sebagai pendidik memiliki tanggungjawab akan keberadaan peserta didik disekolah. Amanah yang diberikan para orang tua kepada kita sebagai guru sungguh sangat berat. Bayangkan, guru memiliki tugas utama mendidik, mengajar dan melatih. Secara ringkas mendidik berkaitan dengan sikap, mengajar berkaitan dengan pengetahunan dan melatih berkaitan dengan ketrampilan. Ambillah visi sekolah yang secara umum menjadi tujuan ketercapaian terhadap peserta didik yaitu terciptanya peserta didik yang cerdas, terampil dan berakhlakul karimah.
Menjadi pertanyaan bagi kita sebagai guru, bagaimana cara mencetak siswa sehingga terwujud seperti visi diatas ?
Ya…. mungkin kita mudah menjawab dengan argumentasi yang serba teoritis. Tetapi sering kita menemui kendala di “medan tempur”. Ketika dalam pelaksanaannya kita butuh ektra dan kesunguh-sungguhan, telaten dan sabar dalam mendampingi peserta didik. Seperti halnya kita membentuk bonsai. Kita harus mempersiapkan media tanam secara baik dalam hal ini kita harus menyiapkan  lingkungan sekolah yang kondusif dan minimal ada ketercukupan fasilitas pembelajaran. Sekolah pastinya memiliki sederet aturan untuk diterapkan kepada peserta didik bukan untuk mengekang tetapi untuk mengendalikan dan mengarahkan agar terbentuk sikap dan karakter yang baik dan mulia. Sekolah secara terus menerus memberikan “nutrisi” ilmu pengetahuan kepada peserta didik serta terus melatih akan terasahnya ketrampilannya.itu semua dilakukan demi tercapai sebuah visi.
“Tegas dalam mendidik bukan berarti keras, disiplin terhadap waktu  bukan berarti kita mengekang kebebasan, menggiring bukan berarti memaksa”
Untuk membentuk karakter tidak cukup waktu satu dua hari, tetapi membutuhkan waktu yang panjang dan membutuhkan kesabaran ,
Untuk membentuk karakter dibutuhkan pembiasaan yang terus menerus “ajek” dilakukan.
Hingga akhirnya akan menjadi kesadaran yang ikhlas pada setiap individu.
Semoga kita semua sebagai pendidik mendapatkan kekuatan, pertolongan serta taufik hidayah-Nya dalam mendidik anak bangsa dan mengemban amanah penuh tanggungjawab. Amiin.
#salamliterasi#paksay

8 komentar:

Tips Menulis Cepat dan Tepat

Bertemu kembali dalam kihade@blogspot. Kali ini kita akan mengahdirkan Catur Nurrochman Oktavian, M. Pd. Beliau adalah Ketua Departemen ...